INILAH.COM, Jakarta Dua klub papan atas, Persija Jakarta dan Persib Bandung dilarang main di stadion sendiri. Polisi tak mau keributan dengan skala lebih besar terulang. Ini akibat anarkisme penonton dan profesionalisme petugas keamanan di stadion.

Sutiyoso tak habis pikir.Mantan Gubernur DKI Jakarta yang pembina Persija itu heran,Macan Kemayoran dilarang tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno,Senayan, Jakarta.Di layar televisi, dia mengungkapkan tak sependapat dengan keputusan pihak kepolisian. Mestinya bukan pertandingannya yang dilarang. Yang harus dicari adalah bagaimana pengamanan lebih efektif. Kalau begini, bagaimana sepak bola kita bisa maju,katanya.
Harusnya, sudah dua kali Persija jadi tuan rumah musim perdana Kompetisi Liga Super Indonesia. Tapi, keduanya gagal jadi kenyataan. Jumat (1/8), harusnya mereka menjamu Persijap Jepara. Empat hari sebelumnya, Senin (28/7), duel mereka lawan Persita Tangerang di tempat yang sama pun tak terlaksana.
Adalah petugas kepolisian yang melarangnya. Kapolda Metro Jaya, lewat surat bernomor R/2435/VII/2008/Datro, tak mengizinkan laga itu terjadi. Alasannya, keributan antarsuporter rawan terjadi.
Sedikitnya, ada dua peristiwa yang melatarbelakanginya. Sebelumnya, terjadi keributan antara suporter Persib dan Persija di Bandung. Selain itu, ketegangan antara suporter Persija dan Persita juga cukup tinggi.
Persija tak sendirian bernasib apes. Persib juga. Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Susno Duadji juga melarang Persib main di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung. Nasib Persib bahkan lebih miris. Mereka tak boleh menggelarnya selama SETAHUN, termasuk di wilayah lain Jabar sekalipun.Kami sudah membicarakan dengan semua jajaran Polda Jabar. Untuk Persib tidak boleh main lagi Jawa Barat. Kami tidak akan mengizinkannya,tegas Susno.
Kapolda juga menepis kemungkinan untuk memberikan izin kepada Persib bisa menggelar pertandingan kandang jika ada jaminan dari bobotoh untuk tidak berbuat anarkis.Dari mana dan siapa yang menjamin bobotoh tidak berbuat anarkis. Siapa yang menjamin mobil orang aman, mobil orang tidak dirusak kalau Persib kalah,tandas Susno.
Persib, sejatinya sudah mendapat sanksi dari Komisi Disiplin PSSI akibat kebrutalan bobotoh saat menghadapi Persija. Pendukung Persib dilarang masuk stadion untuk satu musim. Hanya, hukuman itu dianggap masih lemah karena yang dilarang hanya mereka yang menggunakan atribut Persib.
Salahkah polisi? Dalam kapasitasnya sebagai penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, adalah kewajiban polisi melakukan langkah-langkah antisipasi. Dan, pada beberapa sisi, lapangan sepak bola memang potensial menghadirkan konflik horizontal melebar hingga ke luar stadion.
Dan, keributan seperti sudah menjadi bagian dari fanatisme sempit penonton sepak bola Indonesia. Tiada musim kompetisi yang bebas dari tindakan anarkis. Perkelahian antarsuporter, bahkan dalam level kompetisi terbawah sekalipun, kerap terjadi. Belum lagi aksi saling pukul antarpemain, tindakan anarkis pemain memukul wasit, atau lemparan benda-benda keras ke lapangan pertandingan.
Ironisnya, kekerasan dan anarkis itu kian kerap muncul meski sudah ada kelompok-kelompok suporter yang terafiliasi ke klub-klub. Secara sosiologis, bisalah ini dipandang sebagai sikap tidak jantan bangsa ini. Keberanian ketika sudah berkumpul ramai-ramai.
Tapi, penonton bukanlah satu-satunya faktor yang bisa disalahkan. Buruknya profesionalisme pelaku sepak bola Indonesia, juga jadi pemicu. Ya, pemain, pelatih, atau WASIT. Padahal, di dada mereka sudah disematkan perlambang profesionalisme. Karena itu, mereka mendapatkan bayaran sekelas manajer perusahaan terpandang. Bahkan, beberapa di antara pemain memiliki gaji sebesar direktur.
Manajemen kompetisi juga lemah. Badan Liga Indonesia sejatinya sudah membuat Manual Liga Super Indonesia. Syaratnya; hebat. Tapi, seiring perjalanan waktu, ada saja faktor-faktor yang membuat banyak persyaratan dikangkangi. Mereka takut kalau kompetisi hanya diikuti 6-8 klub saja rupanya.
Polisi? Ini pun tak beda jauh. Tak profesional. Polisi datang ke stadion untuk mengamankan dan karena itu mendapatkan uang rokok. Faktanya, sebagian besar justru datang ke stadion untuk menonton pertandingan, bukan mengantisipasi faktor pemicu keributan. Akibatnya, saat keributan terjadi, pergerakan polisi tak pernah taktis untuk mempersempit ruang keributan.